Filed under: Uncategorized
Ketika anak saya malas sekolah, dan bertanya ‘Yah..kenapa aku harus sekolah..Sekolah untuk apa?. Saya tidak segera menjawabnya. Ini pertanyaan yang tidak biasa. Saya hanya mencoba mengulur waktu, ‘ Sudahlah nduk, sekolah dulu, nanti pulang sekolah baru di jawab pertanyaanmu. .’
Saya kemudian ingat bukunya Tetsuko Kuroyanagi, Totto-Chan, The Little Girl at the Window. Ceritanya tentang Totto-Chan gadis kecil yang dikeluarkan dari sekolahnya pada waktu ia berumur 6 tahun, kemudian sesudah besar jadi orang terkenal. Apa yang terjadi?. Gurunya bilang dia suka melamun, suka bicara pada burung dan pemusik jalanan. Dia suka menatap keluar jendela kelas. Dia buka tutup buka tutup daun pintu meja. Dia bertanya terlalu banyak dan resah menanti jawaban.
Di Jepang pada tahun 40 an, gadis semacam itu memang harus dikeluaran dari sekolah, tetapi kayaknya memang dia tidak menyesal. Sebab kemudian ibunya memilihkan sekolah unik untuknya, dibawah asuhan Sosaku Kobayashi. Sekolahnya bernama Tomoe (atau dalam bahasa Jepangnya Tomoe Gakuen). Kelas sekolahnya dari gerbong kereta api tua, gurunya membawanya berjalan ke tengah alam. Para murid belajar tanpa urutan yang lazim. Mereka bisa memilih sendiri.
Pada waktu perang melawan sekutu, sekolah itu hancur kena bom, waktu Tokyo dibombardir sekutu. Tetapi Totto-Chan tak pernah melupakan sekolahnya dan tak pernah lepas pula membanggakannya. Apalagi dari Tomoe Gakuen itu kemudian muncul bekas muridnya yang jadi ahli fisika terkemuka, ahli anggrek terkenal- dan Totto-Chan sendiri.
Totto-Chan memang sebuah otobiografi yang diceritakan dengan indah, yang bermaksud pula memberi wawasan alternatif tentang sekolah. Menurut beritanya buku tersebut sudah terjual 5 juta eksemplar, yang memecahkan rekor penjualan buku di Jepang.
Kalau dipikir agak jauh, Tetsuko Kuroyanagi menyajikan gugatan pada sistim sekolah lama, menyajikan alternatif bagi sistim sekolah di Jepang yang terkenal sangat keras. Buku ini juga tidak terkesan arogan, tidak sok ‘yang pertama’, kerna sebelumnya sudah ada Montesori yang mengilhami home schooling, Rabindranath Tagore yang benci setengah mati dengan sekolah, kemudian Ivan Illich dengan masyarakat bebas sekolah nya (DeSchooling Society)- ketiga orang itu yang telah lebih dulu membongkar sifat ketat, formal dan destruktif gaya pendidikan yang membelenggu anak.
Kisah Totto-Chan ini kayaknya koq jadi aktual lagi ketika anak saya bertanya tadi. Apakah dia juga merasakan belenggu ketika sudah melihat kelas? Atau apakah dia sudah kena sindrom ‘phobia sekolah’? mungkin ya.
Tetapi kenapa dia tetap mau sekolah? mungkin bukan kerna memang harus sekolah, tetapi kerna akan ketemu teman, kerna bisa bermain, jadi sekolah hanya kerna pertemuan, pertemanan dan permainan, MUNGKIN.
Tetapi saya masih berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.
Leave a Comment so far
Leave a comment