Ada yang pernah baca tulisannya Thomas Malthus, An Essay on the Principle of Population? Kalau belum, saya punya filenya, gak gede2 amat cuma sekitar 1 mega-an.
Thomas Robert Malthus (1766-1834) terkenal karena doktrin populasinya, (Malthusian) . Dalam bukunya tersebut kalau saya gak salah tangkap, membahas tentang pengendalian preventif untuk pertambahan penduduk. Menurut Malthus lahan adalah terbatas sehingga peningkatan produktivitasnya sesuai dengan deret hitung sementara jumlah penduduk meningkat sesuai dengan deret ukur. Hal ini merupakan teori yang menakutkan, walaupun demikian peringatan Malthus seyogyanya membuat kita menyadari keterbatasan bumi. Studi yang menakutkan juga pernah dilakukan the Club of Rome yang berjudul the Limits to Growth yang meramalkan dunia akan mengalami malapetaka dalam satu abad, bila tidak dilakukan hal-hal tertentu untuk mencegahnya. Ternyata terobosan teknologi dan otak manusia telah menunda malapetaka tersebut.
Apakah tulisan Malthus ini sekarang jadi relevan? Berapa populasi Indonesia sekarang? mungkin bisa di jawab dengan perkiraan 250 juta, dan akan terus bertambah, tetapi mau sampai berapa?, berapa sebetulnya daya tampung Indonesia?
Saya bukan seorang ‘malthusian’ , yang melihat perkembangan jumlah manusia dengan pesimistik, tetapi dengan melihat perkembangan yang ada sekarang di Indonesia, kayaknya tulisan Malthus layak dipertimbangkan.
Keluarga Berencana yang sukses pada jaman Pak Harto, sekarang tidak tentu kelanjutannya, bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Yang terjadi kemiskinan malah semakin bertambah, dan itu logis karena kue yang dulu dimakan sedikit orang kini diperebutkan lebih banyak orang. trus bagaimana? Mestinya ada kebijakan ‘one child policy’, seperti yang dilakukan China, atau paling tidak Keluarga Berencana dihidupkan kembali. Mempunyai satu anak, berarti memberi kesempatan kepada keluarga lain untuk ikut menikmati kue, idenya mulia kan?
Mestinya diberikan insentif dengan memberikan beasiswa untuk keluarga yang mampu mempunyai anak satu saja, atau model insentif yang lain. Bagaimana?
salam
Ada beberapa orang yang sinis dengan gaya Ki Hadi Sugito dalam mendalang. Gaya Ndalangnya yang banyak ndagel dari awal sampai akhir membuat orang-orang yang memang tidak senang menjadi semakin tidak senang. Ada sisi lain.
Tetapi secara keseluruhan beliau tidak pernah melenceng, tidak pernah nalingsir, keluar dari pakem asli wayang jawa. Bahkan gaya ndalangnya tersebut dinilai bisa membangkitkan kesenangan bagi penikmat pemula. Bayangkan misalnya untuk orang-orang yang baru pertama kali melihat atau mendengar wayang di hidangi wayang dengan gaya sangat serius, tentu akan capek, bosan dan akhirnya enggan. Lain halnya dengan gaya Ki Hadi Sugito yang berani mendagelkan tokoh-tokoh yang biasanya sangat wingit dan serius, misalnya Betara Guru, Kresna, Durna. Lagian Ki Hadi Sugito bisa membuat lelucon-lelucon segar yang tidak vulgar, tanpa kehilangan esensi. Bisa menciptakan kata-kata baru yang menjadi kekhasan beliau, seperti kata ‘bosah-baseh’, ‘ngglibeng’, ‘trembelane’ dsb. Biasanya memang leluconnya tidak hanya pada goro-goro saja, tetapi hampir pada setiap jejeran. Mendengarnya saja sudah pasti akan tertawa, apalagi bisa menonton life. Konon pernah waktu life, seorang penonton dari balik kelir bisa membayar beliau untuk sesuatu yang tidak biasan dalam wayang, misalnya, ‘Pak Gito, iki limang ewu, tulung petruk ngeplak Kresno’ dan benar-benar dilakukan, termasuk dalang agak edan memang.
Bagaimanapun Ki Hadi Sugito termasuk dalang yang membuat generasi muda khususnya di Jogjakarta menjadi penikmat wayang, paling tidak bisa mengapresiasi. Tak heran jika beliau ditanggap ndalang, selalu penuh, dan kabarnya bisa sampai ke luar jogja, bahkan selalu di rekam oleh perusahaan rekaman.
Akhirnya suka atau tidak wayang telah menempati relung tersendiri di jiwa orang-orang jawa. Wayang seakan menjadi satu dengan kehidupan itu sendiri.
selesai
Salah satu cerita yang didalangi Ki Hadi Sugito adalah ‘Petruk Dukun’. Dalam buku aslinya, “Mahabarata’ versi bahasa apapun pasti tidak akan dijumpai episode cerita tersebut. Meskipun tidak keluar dari pakem pewayangan, cerita tersebut biasanya disebut dengan ‘carangan’, artinya cerita pengembangan sendiri dari si dalang. Dalam setail, cerita Mahabarata dan Ramayana mengalami akulturisasi di Indonesia, khususnya di Jawa, khususnya lagi di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Cerita yang sesungguhnya bertemakan konflik kehidupan manusia, di Jawa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga antara fiksi dan fakta bercampur aduk dengan batas yang tidak jelas. Interpretasi sastra memang sah-sah saja. Tengok saja cerita asli mahabarata, si Resi Drona atau Begawan Durna dalam cerita aslinya digambarkan sebagai resi yang mumpuni, tetapi dalam pewayangan gaya Jogja dipelintir habis jadi seorang ‘trouble maker’, tukang hasut, tokoh jahat dan semacam antagonis lainnya (dalam cerita aslinya, tokoh yang demikian adalah patih Sangkuni atau Sengkuni), saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan semangat anti asing di Jogjakarta, sebab Begawan Durna adalah tokoh Kurawa yang berasal dari negeri asing….walah.
Mungkin mpu Vyasa sebagai pengarang asli Mahabarata akan marah-marah, atau bisa juga tersenyum geli melihat karyanya diobok-obok di Jawa. Tetapi sebetulnya semangat ‘open source’ sudah membudaya dari dulu. Empu Vyasa hanya memberika cerita pakem asli Mahabarata, kemudian dikembangkan dan diakulturisasi diberbagai negara sehingga menjadi cerita yang berkembang bermacam-macam, dan semua tetap bisa dinikmati sebagai karya sastra utama.
Filed under: Uncategorized
Untuk yang tidak mempunyai akar budaya jawa, khususnya Ngayojakarta, nama Hadi Sugito mungkin tidak ada artinya sama sekali. Tetapi bagi yang terlanjur punya ikatan yang mungkin kuat dengan kultur jogja, pelakon wayang yang satu ini tentunya tidak akan asing lagi.
Ya, memang beliau adalah seorang dalang, yang cukup kondang. Sampai sekarangpun hampir tiap malam stasiun radio di Jogja memperdengarkan sulukannya yang berat. Pada jamannya dia pernah jadi dalang favorit di Jogja, artinya sebagian besar orang Jogja memilih dia sebagai pelakon wayang yang bagus. Saya sebetulnya lahir di wilayah Solo, tetapi entah kenapa saya malah menyukai dalang dengan gaya Jogja. Perlu diketahui, di Jawa Tengah, Seni pedalangan bisa bermacam-macam aliran, tetapi yang kuat adalah gaya Solo dan gaya Jogja. Yang saya tahu tentang perbedaan gaya dalang solo dan jogja adalah kecrek-nya, kemudian waktu suluk. Wayang gaya solo sekarang terasa lebih kuat nuansa improvisasi yang bagi saya ngawur, dengan memasukkan unsur-unsur non-wayang kedalamnya, seperti campursari, masuknya adegan lawakan dengan pelawak sungguhan. Sementara gaya jogja tetap pada pakem cerita inti, tetap klasik wayang, dan itulah yang saya suka. Pernah memang waktu Hadi Sugito ndalang life, memasukkan wayang seorang penjual jamu yang lucu, tetapi tetap pada inti pakem cerita wayang, tidak melenceng, tetap klasik.
Menurut saya seorang dalang yang baik haruslah orang yang mempunyai kelainan kepribadian. seorang dalang harus punya split personality disorder, harus punya kepribadian ganda, kepribadian yang terpecah. Seperti Dr Jeckyl dan Mr. Hyde. Bahkan seorang dalang yang baik seharusnya punya lebih dari dua kepribadian ganda, sebab untuk memainkan banyak wayang dengan banyak karakter yang berbeda kalau tidak punya itu, wayangnya tidak hidup. Dan Hadi Sugito saya pikir mempunyai kepribadian ganda. Melihat atau mendengarkan Hadi Sugito mendalang kita seperti tersihir, masuk kedalam cerita, seolah kita sendiri ikut di dalamnya, luar biasa.
Ki Hadi Sugito memang sudah tiada, tetapi suluknya tetap terdengar hampir tiap malam. Bukan di Jogja saja, tetapi Magelang, Temanggung, Purworejo, dan sekitarnya tetap pada menyukainya.
bersambung…………
Di depan tombol keyboard, aksara berbaris. Kadang kita bisa tertawa atau bisa juga menangis. Harapan baru bisa juga terpacu, tetapi kadang juga terbelenggu. Duniapun tercerahkan.
Saya bukan malaikat, tetapi berusaha untuk tidak menjadi setan. Berharap lebih juga menjadikan kita sungkan, tetapi tidak pernah padam. Ketika ujung jari menekan, kemudian muncul tulisan. Sejak itulah ikrar kita untuk mencari padanan.
Salam,

